11/08/2013

Tepat Jemput Khasiat Tiwai


Tepat Jemput Khasiat Tiwai


Bagi pasien yang memiliki gangguan lambung, sebaiknya konsumsi bawang berlian setelah makan

Bagi pasien yang memiliki gangguan lambung, sebaiknya konsumsi bawang berlian setelah makan
Konsumsi bawang berlian baik sebelum makan, tapi tidak untuk penderita mag.
Satu jam bagai setahun. Gara-gara salah cara konsumsi bawang berlian, Suci Puji Suryani mesti merasakan derita perut perih dan melilit selama satu jam. Suci mengonsumsi bawang berlian untuk mengontrol kadar gula darahnya. Itu bermula dari pemeriksaan kesehatan seluruh karyawan perusahaan tempat ia bekerja.
Angka 225 mg/dl kadar gula darah hasil pengecekan pada April 2013 itu membuat jantung  perempuan asal Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, itu berdebar-debar. Dari berbagai literatur yang dibaca Suci mafhum kadar gula darah itu tinggi. Kadar gula darah normal jika nilai kadar gula darah sewaktu-waktu diperiksa kurang dari  200 mg/dl.
Ibu 3 anak itu pantas gundah. Ia termasuk mereka yang berisiko tinggi menderita diabetes mellitus. Ibunda Suci penderita diabetes. Menurut dr Hendarto Natadidjaja MARS SpPD di rumahsakit Royal Taruma, Jakarta, risiko diabetes diturunkan pada mereka yang memiliki keluarga penderita diabetes. Sejak pemeriksaan itu, alumnus Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman itu pun mengubah gaya hidup.
Ia mengambil dua siung bawang berlian Eleutherine americana, merajang, dan merebusnya dengan 4 gelas air di atas api kecil hingga tersisa 2 gelas. Air rebusan ia konsumsi pagi dan sore hari sebelum makan. Baru seminggu konsumsi tiba-tiba datang derita perut perih dan melilit itu.
Sebelum makan
Menurut peneliti dari Sekolah Farmasi Institut Teknologi Bandung, Prof Dr Sukrasno, konsumsi herbal memang sebaiknya sebelum makan. Pada kondisi lambung yang kosong penyerapan herbal lebih efektif. Hanya saja saran itu ada pengecualian. “Bagi orang yang lambungnya sensitif, disarankan konsumsinya setelah makan,” tutur doktor Botani alumnus Universitas Edinburgh, Inggris itu. Jika konsumsi herbal berbarengan dengan obat  kimia, beri jeda selama 2 jam.
Dokter sekaligus herbalis di Bintaro, Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten, dr Prapti Utami sepakat. Konsumsi bawang berlian sebaiknya satu jam sebelum makan. “Pada kondisi itu lambung  dalam keadaan kosong, sehingga penyerapan  herbal lebih maksimal,” ujarnya. Bagi pasien yang memiliki gangguan lambung seperti  mag, sebaiknya konsumsi herbal dua jam setelah makan.
Lukas Tersono Adi, herbalis di Tangerang, Provinsi Banten, menganjurkan untuk mereka yang memiliki lambung sensitif untuk menambahkan kayu manis Cinnamomum zaylanicum saat konsumsi bawang berlian. “Kayu manis menetralisir asam lambung yang terlalu tinggi,” tutur perintis Asosiasi Pengobat Tradisional Ramuan Indonesia (ASPETRI) itu. Suci mencoba cara  itu. Ia menambahkan 3 cm kayu manis tiap kali merebus bawang berlian. Air rebusan dikonsumsi setelah makan. Hasilnya, “Sekarang perih di lambung tak pernah terasa,” kata perempuan yang berdomisili di Depok,  Jawa Barat, itu.
Menurut Lina Mardiana, herbalis di Yogyakarta, keluhan perih di lambung pascakonsumsi bawang berlian bisa juga disebabkan karena stamina pasien jelek. Kemungkinan lain terjadi peradangan di lambung akibat mengonsumsi bawang dayak dalam bentuk kapsul. Cangkang kapsul sulit dicerna sehingga menyebabkan peradangan. Oleh karena itu Lina lebih menyarankan konsumsi dalam bentuk air rebusan. Lina juga mengingatkan untuk tidak berlebihan dalam mengonsumsi bawang berlian. Konsumsinya cukup satu gelas air rebusan untuk sekali minum.
Belum ada riset yang mengungkap mengapa konsumsi bawang berlian menyebabkan  lambung menjadi perih. Di sisi lain, Dani Hendrawan—yang bersangkutan enggan disebut namanya—justru terbebas dari mag setelah konsumsi bawang berlian. Dani mengonsumsi ekstrak kapsul sebanyak 2 kapsul sehari sehabis makan. Sebulan konsumsi, mag yang diderita hampir 5 tahun itu membaik. “Dulunya setelah makan santan dan pedas perut selalu perih dan kembung,” ucapnya.
Hipotensi
Penderita darah rendah juga sebaiknya bijak dalam mengonsumsi bawang berlian. “Bawang berlian menurunkan tekanan darah,” kata dr Prapti Utami. Untuk mengatasi efek samping itu, dr Prapti menyarankan agar konsumsi bawang berlian dibarengi wedang jahe.
Caranya, hancurkan rimpang jahe Zingiber officinale seukuran 2 ruas jari, lalu campur dengan segelas air panas (200 ml). Diamkan hingga hangat kuku lalu minum setiap kali konsumsi bawang berlian. “Jahe menaikkan tekanan darah, sehingga efek samping konsumsi bawang berlian teratasi,” paparnya. Cara lain, dengan menambahkan garam seperti saran Lina. Tambahkan seujung sendok teh garam dapur ketika mengonsumsi bawang berlian.
Sifat penurun tekanan darah bawang dayak baik untuk penderita hipertensi. Namun, konsumsinya tetap berhati-hati. Sanusi Oneih, produsen kapsul bawang berlian di Kabupaten Paser, Provinsi Kalimantan Timur, menyarankan jika tekanan darah sudah normal hentikan konsumsi bawang berlian. Dengan cara tepat, faedah bawang tiwai benar didapat. (Desi Sayyidati Rahimah/Peliput: Bondan Setyawan, Andari Titisari, dan Pressi Hapsari Fadlillah)

  1. Bagi pasien yang memiliki gangguan lambung, sebaiknya konsumsi bawang berlian setelah makan
  2. Penambahan kayu manis dalam perebusan bawang berlian dapat menetralisir asam lambung yang terlalu tinggi
  3. Lina Mardiana menyarankan menambahkan garam untuk mengatasi hipotensi
sumber:http://www.trubus-online.co.id/topik/6905-tepat-jemput-khasiat-tiwai.html

Nama Dayak di Umbi Obat


Nama Dayak di Umbi Obat


Di Kalimantan, bawang dayak digunakan sebagai bumbu masak, obat hingga upacara adat
Di Kalimantan, bawang dayak digunakan sebagai bumbu masak, obat hingga upacara adat
Dari bumbu masak hingga berkhasiat obat.
Sebuah umbi, sebutannya banyak. Itulah Eleutherine americana yang berubah nama di berbagai daerah di Pulau Kalimantan: bawang hantu, bawang dayak, tiwai, dan bawang sabrang. Padahal, tanaman anggota famili Iridaceae itu sejatinya bukan berasal dari tanah Kalimantan, tetapi Amerika selatan. Menurut Noorcahyati SHut, Peneliti di Balai Penelitian Teknologi Konservasi Sumbar Daya Alam Kalimantan Timur, sebutan bawang dayak karena secara turun-temurun suku Dayak memanfaatkan umbi itu untuk beragam keperluan.
Bagi Lirung, warga Kabupaten Putussibau, Provinsi Kalimantan Barat, bawang dayak bahan yang harus ada dalam sambal. Ia menambahkan satu atau dua siung bawang dayak untuk menguatkan rasa sambal. “Kalau tidak ditambah bawang dayak, sambal terasa hambar,” kata pria berusia 50 tahun itu.  Sambal itu menjadi menu kesukaan Lirung dan keluarga. Lirung mengambil bawang berlian yang tumbuh liar di pekarangannya. “Di kebun ada serumpunan bawang dayak yang tumbuh liar,” katanya.
Obat
Pemanfaatan lain bawang berlian adalah sebagai bumbu masak. Sanusi Oneih, warga Kabupaten Paser, Kalimantan Timur, menuturkan penduduk lokal memanfaatkan bawang sabrang sebagai bumbu masak, “Bawang dayak digunakan sebagai pewarna makanan atau pelunak daging,” tutur Sanusi. Mereka menambahkan satu siung umbi ketika merebus daging.
Menurut Prof Dr Sukrasno MS, farmakolog dari Sekolah Farmasi Institut Teknologi Bandung, bawang berlian kaya antosianin, senyawa pewarna alami yang memberi warna merah pada umbi. “Antosianin berfaedah sebagai antioksidan yang berperan menetralkan radikal bebas,” tutur Sukrasno. Meski banyak dimanfaatkan sebagai bumbu masak, bawang berlian juga berkhasiat obat. Sanusi pernah merasakan faedah bawang berlian untuk mengatasi prostat.
Kondisinya membaik setelah sebulan rutin konsumsi rebusan bawang berlian. Karena berkhasiat dan sulit memperoleh bawang berlian, Sanusi mengebunkan komoditas itu di lahan    2.500 m2. Sejatinya, bawang dayak memang tumbuhan liar dan banyak dijumpai di pinggiran hutan di Kalimantan. Noorcahyati menuturkan, di Kalimantan, bawang berlian memang tumbuh liar.
“Jarang yang membudidayakan secara intensif. Ada pula yang tumbuh di pekarangan. Itu pun hanya segerombol,” ujar peneliti etnobotani itu. Masyarakat Kalimantan lebih akrab menyebutnya bawang dayak atau bawang tiwai ketimbang bawang berlian. Warga di Provinsi Kalimantan Timur secara empiris memanfaatkan bawang dayak untuk menyembuhkan beragam penyakit seperti kanker, tumor, diabetes mellitus, dan hipertensi. “Eleutherine, senyawa aktif dalam bawang dayak, ampuh sebagai antikanker dan antioksidan, ”kata Noorcahyati.
Panasea
K Heyne dalam “Tumbuhan Berguna Indonesia” menyebutkan umbi bawang berlian berguna untuk melancarkan buang air kecil, menahan muntah, dan pencahar. Sementara daunnya bermanfaat membersihkan darah pada perempuan setelah melahirkan. Menurut peneliti dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian, Kalimantan Tengah, Ronny Yuniar Galingging, bawang hantu—sebutan bawang dayak di Kalimantan Tengah—memiliki hampir semua kandungan fitokimia seperti alkaloid, glikosida, flavonoid, fenolik, steroid, dan tanin.
Hanya  saponin yang tidak terkandung di dalam umbi. Umbi bawang dayak juga mengandung senyawa naphtakuinones dan turunannya seperti elacanacine, eleutherine, eleutherol, dan eleuthernone. Dr Sukrasno menuturkan, eleutherine merupakan senyawa antioksidan yang bersifat antibakteri, antikanker, dan penangkal radikal bebas.
Amik Krismawati dan M. Sabran dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian, Kalimantan Tengah, menuturkan bawang dayak dapat digunakan untuk mengobati sakit kepala, demam, sakit perut, sakit gigi, flu, malaria, penyakit gula, bahkan kanker. Bawang berlian tersebar di Kabupaten Kotawaringin Timur, Kotawaringin Barat, Barito Selatan, Barito Utara, dan Kapuas.
Herbalis di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Ranti yang sohor dengan panggilan Mama Agus memanfaatkan bawang dayak untuk obat secara turun-temurun. Ia meresepkan umbi bawang dayak untuk membantu mengobati hipertensi, jantung, dan beragam kanker seperti kanker kolon dan payudara. Mama Agus menyarankan agar pasien mengonsumsinya dengan menyeduh 5 siung bawang dayak dengan segelas air panas. “Minum sedikit-sedikit selama satu hari,” katanya.
Mama Agus menambahkan, bawang dayak juga andal menyembuhkan luka dan menghalau bisul atau penyakit kulit. Cukup parut bawang dayak lalu tempelkan pada anggota tubuh yang terluka. “Bukan hanya umbi yang berkhasiat obat. Daun bawang dayak dapat digunakan untuk mengobati katarak,” kata Mama Agus. Caranya rebus 5 lembar daun bersama satu gelas air. Minum air rebusan itu setiap hari.
Daun kering
Menurut Muhamad Natsir MSi dari Balai Pelestarian Nilai Budaya, Kalimantan Barat, pemanfaatan bawang dayak memang beragam. Ada yang menggunakan sebagai obat, bumbu masak, bahkan pelengkap di upacara adat. Sebagai obat, “Bawang dayak dapat menurunkan panas,” katanya. Penggunaannya, 2 siung bawang dayak dan 3 lembar daun sirih direndam dalam segelas air hangat. Setelah dingin, minum ramuan itu. Selain diminum, bisa juga dikucurkan ke kepala. Air rendaman itu bisa juga digunakan untuk membersihkan wajah.
Natsir menuturkan, pemanfaatan bawang dayak tidak seperti bawang merah yang digunakan sehari-hari. Menurut kepercayaan, jika digunakan sebagai obat dan dikonsumsi setiap hari khasiatnya berkurang. Selain umbinya, daunnya juga bermanfaat. Pada upacara keagamaan daun kering bawang berlian digunakan sebagai pengganti kemenyan.
Orang tua yang baru memiliki bayi biasanya membakar daun kering bawang dayak untuk mengusir roh halus. Khasiat bawang berlian tak hanya terkenal di Kalimantan. Valentina Indrajati, misalnya. Herbalis di Bogor, Jawa Barat, itu sudah meresepkan bawang berlian sejak lima tahun silam. Alumnus Universitas Parahyangan itu meresepkan bawang berlian untuk mengatasi kanker kulit, tekanan darah tinggi, kolesterol, diabetes, dan kanker usus. (Andari Titisari dan Desi Sayyidati Rahimah/Peliput: Pressi Hapsari F)
sumber : http://www.trubus-online.co.id/topik/6902-nama-dayak-di-umbi-obat.html

10/19/2013

Bagaimana Reaksi Kerja Herbal Bekerja Dalam Tubuh











 Tahukah Anda Reaksi Kerja Herbal DalamTubuh
Orang yang mengonsumsi herbal untuk pertama kalinya, mungkin akan dikejutkan oleh efek dan reaksi tidak menyenangkan yang dihasilkannya.
Akibatnya, seringkali beberapa orang menyimpulkan bahwa mereka mengalami keracunan. Mari kita lihat reaksi seperti apa yang dimaksudkan dalam penjelasan berikut.

Reaksi Obat Herbal

Reaksi yang dimaksudkan di atas, biasanya akan muncul dalam bentuk yang berbeda-beda pada tiap orang. Terkadang, pada awal terapi herbal, perut Anda akan terasa seperti dikocok selama satu atau dua hari, pusing, mual, dan  sakit perut mungkin menyertainya.
Jika Anda mengalaminya, jangan khawatir! Secara umum dikatakan bahwa reaksi ini adalahefek penyesuaian tubuh, dimana tubuh menyesuaikan sistem metabolisme untuk bisa memanfaatkan pengobatan yang diberikan oleh herbal tersebut dan biasanya akan hilang setelah beberapa hari.
Selain efek penyesuaian tersebut, akan ada efek detoksifikasi, dimana tubuh mengeluarkan racun atau zat-zat berbahaya dari dalam tubuh ketika/setelah menerima pengobatan.
Reaksi yang mungkin muncul adalah batuk-batuk, pilek, demam, gatal-gatal, banyak mengeluarkan keringat, sering buang air kecil dan besar dan sekali lagi efek tersebut akan berbeda-beda pada tiap orang.
Jika Anda merasakan reaksi atau efek yang tidak menyenangkan tersebut, ketika/setelah menggunakan obat herbal, jangan menyerah dan menghentikan pengobatan yang diberikan, itu sama saja dengan menghentikan proses pengobatan dan pemulihan.
Jika Anda tidak yakin, konsultasikan dengan ahli herbal Anda dan ikuti petunjuk yang diberikan. Biasanya, ahli herbal akan menganjurkan Anda mengurangi dosis untuk meringankan efek tersebut dan memberikan waktu bagi tubuh untuk menyesuaikan diri dengan bekerjanya obat herbal.

Bagaimana Reaksi Obat Herbal Bekerja?

Seseorang yang memutuskan untuk menggunakan obat herbal sebagai pengobatan harus sabar menunggu hasilnya. Mengapa? Salah satu prinsip kerja herbal adalah reaksi obat herbal yang lambat.
Tidak seperti obat kimia yang bisa langsung bereaksi, reaksi obat herbal dan manfaatnya umumnya baru dapat dirasakan setelah beberapa minggu atau beberapa bulan penggunaan.
Hal itu disebabkan, senyawa-senyawa berkhasiat di dalam obat herbal membutuhkan waktu untuk menyatu dalam metabolisme tubuh. Berbeda dengan obat kimia yang bekerja dengan cara meredam rasa sakit dan gejalanya,  obat herbal bekerja dengan berfokus pada sumber penyebabnya.
Artinya, reaksi obat herbal bekerja dengan cara membangun dan memperbaiki keseluruhan sistem tubuh dengan memperbaiki sel dan organ-organ yang rusak.
Tak heran, dibutuhkan waktu yang relatif lebih lama untuk merasakan efek obat herbal dibandingkan jika kita menggunakan obat kimia. Alasan lain, kebanyakan obat herbal yang beredar di pasaran bukan berupa senyawa aktif yang diperoleh dari proses ekstraksi melainkan berasal dari bagian tanaman obat yang diiris, dikeringkan, dan dihancurkan.




8/10/2013

INFORMASI PRODUK




Informasi Produk

      Kapsul ekstrak bawang dayak  ALYCHINS produksi TRUBUS  PANGAN SWADAYA merupakan produk herbal yang diproduksi untuk memberikan manfaat yang sangat besar bagi pengguna herbal.
      
     Dengan Pengalaman sebagai penerbit majalah Pertanian di Indonesia kini TRUBUS menghadirkan produk yang tidak usah diragukan lagi khasiatnya.

      Dari beberapa penellitian yang telah dilakukan .Bawang dayak alias bawang berlian terbukti secara empiris mampu menyembuhkan berbagai penyakit seperti diabetes mellitus, mioma, dan mag. Hasil riset di Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan Institut Pertanian Bogor (IPB), menunjukkan umbi tanaman anggota famili Iridaceae itu mengandung senyawa  naphtoquinonens dan turunannya seperti elecanacine, eleutherine, eleutherol, dan eleuthernone. Naphtoquinones dikenal ampuh sebagai antikanker, antioksidan, antimikroba, anticendawan, antivirus, dan antiparasitik.

EFEK FARMAKOLOGI

      Umbi bawang dayak ( eleutherine palmifollia) mengandung alkaloid,saponin,triterponoid,steroid,glikosida,tannin,fenolik dan flavonoid.
Dari hasil penelitian,triterpenoid dan fenolik dalam umbi bawang dayak memberikan efek hipoglikemik yang dapat menurunkan kadar gula dalam darah. Sedangkan flavonoid bersifat sebagai antioksidan yang dapat memelihara kesehatan tubuh dan kulit. Bawang Dayak juga memiliki senyawa aktif naphtoquinon eleutherine yang berpotensi sebagai antikanker.Zat aktif tersebut dapat menghambat kerja enzim topoisomerase II yang berperan penting dalam fase replikase dan foliperasi sel kanker.

PENYAKIT YANG DAPAT DIOBATI


Penyakit-penyakit yang dapat dibantu penyembuhannya menggunakan bawang hasil pertanian di daerah Kalimantan ini adalah sebagai berikut.

 1. Obat peluruh kemih
  2. Obat muntah
  3. Pencahar
  4. Obat penyakit kuning dan kelamin
  5. Semua penyakit kronis dan yg berhubungan dengan Darah 

  6. TBC,
  7. Asma,
  8. Migrain,
  9. Vertigo,
10. Ambeien,
11. Amandel,
12. Maag,
13. Radang Usus,
14. Ginjal,
15. Prostat
16. Diabetes
17. Asam urat
18. Hipertensi / Darah Tinggi
19. Darah Rendah
20. Epilepsi
21. Gangguan pencernaan lambung
22. Kolesterol
23. Gondok
24. Bronkhitis
25. Stamina
26. Gangguan seksual / Vitalitas
27. Keputihan
28. Sakit Pinggang
29. Stroke
30. Jantung,
31. Hepatitis,
32. Insomnia,
33. Rematik
34. Pelupa dan menurunnya fungsi ingatan
35. Segala jenis Kanker dan Tumor (Kista, Myom, Kanker Payudara, Kanker Rahim, Kanker    

      kelenjar getah bening, Kanker paru paru, Kanker usus)

           Dengan banyaknya manfaat yang terkandung itulah maka tak salah kiranya TRUBUS menghadirkan  produk kapsul bawang dayak (ekstrak murni) ALYCHINS . 

KANDUNGAN

Tiap Kapsul ( 500mg) mengandung
Eleutherine palmifolia bulbus extractum....................500mg

    ANJURAN KONSUMSI
    1. Pengobatan  2    X sehari @ 2 kapsul
    2. Pencegahan 1-2 X sehari @ 2 kapsul

















    Bicara Tentang Bawang Dayak


    Mereka Bicara Bawang Dayak

    Kendalikan stres, seimbangkan pola hidup, konsumsi herbal yang tepat adalah kunci utama penanggulangan diabetes.

    Kegemaran mengonsumsi makanan dan minuman manis tak selalu berakhir manis. Nyatanya jumlah penderita diabetes mellitus tanahair kian meningkat. Sarah Wild dan rekan-rekan dari Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Edinburgh, Skotlandia, bekerja sama dengan Badan Kesehatan Dunia (WHO) pada 2004 membuktikan hal itu. Riset mereka menunjukkan pada 2000, jumlah penderita penyakit gula Indonesia mencapai 8,4-juta jiwa. Sarah dan rekan-rekan memprediksi angka itu menjadi 21,3-juta jiwa pada 2030. Sementara Riset Kesehatan Dasar Kementerian Kesehatan pada 2007 menyatakan diabetes mellitus menyebabkan 14,7% kematian penduduk berusia 45—54 tahun di daerah perkotaan. Dalam laporannya, Sarah Wild menyebutkan pemicu peningkatan risiko diabetes adalah tingginya angka obesitas dan kurang aktivitas fisik.
    Menurut dr H Hafuan Lutfie di Tebet, Jakarta Selatan, hampir seperlima pasien yang datang dengan keluhan diabetes mellitus berusia kurang dari 40 tahun. “Penderita memang bisa melatih diri untuk hidup dengan diabetes, tapi produktivitasnya berkurang dibandingkan dengan orang sehat,” kata Lutfie. Ia menganjurkan pencegahan sederhana: biasakan aktivitas fisik minimal 1—1,5 jam per hari, perbanyak minum air putih di saat tepat, kurangi asupan tinggi kalori, dan konsumsi makanan sehat alami seperti berbagai jenis herbal dan madu. Tiga dokter berikut berbicara tentang bawang berlian untuk mengendalikan kadar gula darah.

    dr Prapti Utami: Bawang Dayak Efektif
    Di Bintaro, Tangerang Selatan, Banten, dr Prapti Utami meresepkan bawang dayak kepada penderita diabetes sejak 8 tahun terakhir. Dokter alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang itu mengombinasikan bawang dayak dengan berbagai herbal lain. Misal sambiloto, ciplukan, daun salam, brotowali, mahkota dewa, tapakdara, kayumanis, mimba, dan daun sendok. “Kombinasi herbal meningkatkan efektivitas dan mengurangi kemungkinan munculnya efek samping,” kata anggota istimewa ASPETRI (Asosiasi Pengobat Ramuan Tradisional Indonesia) itu. Bawang dayak tergolong efektif menurunkan kadar gula darah meski konsumsi tunggal.
    Tidak ada obat yang benar-benar manjur untuk diabetes. Pengalaman Prapti, kadar gula darah pasien diabetesi selalu naik-turun, tergantung konsistensi menjaga pola konsumsi. Bagi sebagian orang, makanan diabetesi memang cenderung membosankan. Itu sebabnya pasien kadang tergiur mengonsumsi makanan biasa, terutama diabetesi kantoran yang masih aktif dan kerap makan di luar rumah. “Makanan jajanan cenderung jor-joran mengandung bahan sintetis untuk meningkatkan citarasa. Jangan heran kalau gula darah pasien melonjak meski dalam seminggu hanya jajan 1—2 kali,” kata pemilik Klinik Evergreen itu.
    Toh, Prapti mengingatkan untuk berhati-hati mengonsumsi bawang dayak, terutama pengidap tekanan darah rendah atau penderita gangguan lambung. Berdasarkan pengalaman beberapa pasien, penderita tekanan darah rendah mengalami penurunan tekanan darah tiba-tiba pascakonsumsi bawang tiwai sampai pandangan berkunang-kunang. Ia menyarankan untuk mengonsumsi bawang berlian itu sejam menjelang makan atau 2 jam setelahnya.

    dr Paulus Wahyudi Halim MedChir: Subjektivitas
    dr Paulus Wahyudi Halim MedChirMenurut dr Paulus Wahyudi Halim, bawang tiwai bisa menjadi alternatif terapi bagi diabetesi. Ia menyarankan pasien tidak hanya mengonsumsi herbal, tapi juga mengombinasikan dengan tindakan medis. Utamanya diabetesi dengan kadar gula darah lebih dari 150 mg/dl darah. Kadar normal gula darah adalah kurang dari 140 mg/dl untuk pengukuran sesaat; puasa, kurang dari 100 mg/dl. “Yang paling penting, jangan samakan konsumsi herbal dengan obat-obatan penurun kadar gula darah yang bisa menurunkan kadar gula darah secara instan dalam hitungan jam,” kata Paulus. Konsumsi herbal mesti teratur untuk memperoleh efek terapi yang diinginkan.
    Pengobatan herbal hampir sama dengan pengobatan medis, tidak lepas dari faktor subjektivitas. “Sebagian orang cocok dengan dokter tertentu dan merasa tidak cepat sembuh jika berobat ke dokter lain. Padahal obat yang diresepkan itu-itu juga. Atau anggapan bahwa mengonsumsi obat dengan merek dagang tertentu lebih cepat sembuh, padahal zat aktif yang terkandung sama saja dengan merek lain,” ungkap Paulus.
    Namun, konsumsi herbal kondisinya berbeda. “Setiap jenis herbal mengandung zat aktif berbeda, sehingga bawang dayak hanya akan efektif pada orang yang sensitif dengan zat aktif di dalamnya,” kata Paulus. Untuk diabetesi, dokter alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Degli Studi Padova, Italia, itu biasa meresepkan mengkudu, tapak dara, atau paria. Paulus menganjurkan untuk mengonsumsi herbal dalam kondisi segar jika memungkinkan. Alternatif lain, konsumsi dalam bentuk seduhan yang karena lebih steril karena ada proses pemanasan.
    dr Fetty Amalita Madjid: Kendalikan Stres
    dr Fetty Amalita MadjidMengajak bicara dan membiarkan pasien melepaskan unek-unek menjadi salah satu cara dr Fetty Amalita Madjid di Cibubur, Jakarta Timur melakukan terapi. “Sekitar 70—80% pasien yang datang sejatinya tidak terlalu sakit, mereka hanya perlu teman bicara untuk menurunkan ketegangan,” kata Fetty. Ketegangan alias stres itulah yang mengundang penyakit degeneratif hadir lebih dini. Dalam batas tertentu, stres justru menjadi pemicu untuk berbuat lebih baik sehingga mencapai hasil lebih tinggi. Namun kalau berlebihan, alih-alih mencapai hasil lebih tinggi, justru masalah yang datang.
    “Kendalikan stres, bukan sebaliknya,” kata perempuan kelahiran 48 tahun silam itu. Stres berlebihan akan mengganggu kinerja organ paling lemah alias locus minoris resistentiae. Kamus kesehatan Meriam-Webster mendefinisikan locus minoris resistentiae sebagai bagian tubuh dengan pertahanan paling lemah terhadap serangan penyakit. Menurut dokter alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Yarsi itu, setiap orang mempunyai locus minoris resistentiae berbeda-beda. Penderita diabetes yang sering mengalami lonjakan gula darah saat mengalami stres berlebih memiliki locus minoris resistentiae di pankreas.
    “Pengalaman salah satu pasien saya, jika sedang bahagia, makan agak sembarangan pun tidak menaikkan kadar gula darah sampai tingkat ekstrem. Namun, kalau banyak pikiran, makan terkontrol saja membuat gula darah naik sampai 300 mg/dl,” kata Fetty. Penderita diabetes seperti itulah yang mesti belajar mengendalikan stres. Menurut Fetty, kontribusi obat herbal maupun medis hanya 40—50%.
    Fetty biasanya menganjurkan konsumsi paria, jus kacang panjang, atau lidah buaya untuk penderita diabetes. Menurutnya, bahan herbal untuk diabetes seringkali justru tidak mengandung zat aktif yang menurunkan gula darah, tapi meningkatkan fungsi pankreas dan meningkatkan sensitivitas terhadap insulin. Ia memperkirakan bawang dayak pun bersifat demikian. Yang terpenting, jangan biarkan stres mengambil alih kendali tubuh. (Argohartono Arie Raharjo/Peliput: Muhamad Cahadiyat Kurniawan)
    sumber: http://www.trubus-online.co.id/topik/6904-mereka-bicara-bawang-dayak.html

    Superbulb Warisan Dunia


    Salah satu dari tujuh keajaiban dunia ini didirikan berkat khasiat bawang, sang super bulb
    Salah satu dari tujuh keajaiban dunia ini didirikan berkat khasiat bawang, sang super bulb
    Necropolis, sepatah kata itu langsung diasosiasikan dengan salah satu tujuh keajaiban dunia, piramida Cheops. Ada juga yang menyebutnya piramida Khufu. Itulah piramida tertua dan tertinggi di dunia selama 3.800 tahun. Piramida yang selesai dibuat pada 2580 SM itu dibangun selama 20 tahun. Luasnya kira-kira 10 kali lapangan sepak bola dan terbuat dari dua juta batu kapur dengan rata-rata bobot per batu 2,5 ton! Sulit dipercaya bahwa piramida yang megah itu hanya dikerjakan oleh tenaga manusia. Itulah sebabnya ada yang yakin bahwa piramida itu, adalah teknologi yang diberikan kepada manusia zaman itu oleh para pendatang dari luar angkasa, alien.
    Siapa pun pembuatnya, fakta sejarah membuktikan piramida dikerjakan oleh ribuan manusia. Daya tahan mereka tentu luar biasa. Ketika kelelahan mendera, mereka diberi asupan bir, roti, dan umbi bawang putih. Bawang putih waktu itu diyakini dapat menghilangkan rasa sakit dan  mempertinggi daya tahan tubuh. Bukti bawang putih akrab dengan kehidupan manusia sejak lebih dari 5.000 tahun lalu itu juga ada di relief-relief piramida. Para arkeologis malah menemukan fosil bawang putih di makan King Tutankhamen.
    Di belahan dunia lain, Roma, Italia, bawang putih pun dipercaya berkhasiat obat. Ada 23 manfaat bawang putih, di antaranya mempertinggi daya tahan tubuh para serdadu dan pelaut. Di Tiongkok, bawang puth menjadi herbal sejak 3.000 tahun lalu. Nenek moyang di India, Jepang, Eropa, dan Amerika pun menjalani rutinitas sehari-hari dengan bawang putih. Mungkin itu yang mendorong Velazques dan van Gogh memakai bawang putih sebagai salah satu obyek lukisan mereka.
    Kandungan utama bawang putih adalah alisin yang bersifat antibakteri dan scordinin sebagai antioksidan. Ditambah aneka asam amino dan vitamin, bawang putih ampuh untuk melawan penyakit tekanan darah tinggi, kolesterol, penyempitan pembuluh jantung, atherosklerosis, pembesaran prostat, dan memperbaiki fungsi hati. Kini bawang putih masuk pasar swalayan tidak hanya sebagai bumbu dapur. Di toko-toko obat modern  bawang putih dikemas cantik dalam bentuk kapsul atau bahkan minyak sebagai suplemen makanan. Beberapa merek yang kerap terlihat adalah Garlic, Garlic Oil, dan Swiss Garlic.Setumpuk manfaat. Setumpuk testimoni. Pantas jika bawang putih disebut sebagai superbulb.
    Superbulb lain
    Bawang putih Allium sativum ialah superbulb dari keluarga Liliaceae. Ada lagi yang layak disebut superbulb pula. Ia bukan berasal dari keluarga Liliaceae, tetapi Iridaceae. Namanya bawang berlian Eleutherine americana. Nama aliasnya banyak: bawang dayak, bebawangan bara, tiwai,  bawang sabrang, atau bawang berlian.
    Farmakolog dari Sekolah Farmasi Institut Teknologi Bandung, Dr Sukrasno menyebutkan, bawang berlian mengandung senyawa aktif eleutherine dan antosianin. Eleutherine senyawa khas milik bawang berlian, tidak ditemukan di tanaman lain. Kandungan lainnya, sebagaimana disebut oleh Prof Dr Sidik Apt, guru besar emiritus Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran, ialah alisin yang bermanfaat menurunkan tekanan darah dan mengencerkan darah.
    Penelitian Alia Mustika, alumnus Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan Institut Pertanian Bogor menunjukkan bawang berlian juga mengandung elecanacine, eleutherol, dan eleuthernone. Ketiganya turunan senyawa golongan naftokuinon. Beberapa waktu lalu, setelah Trubus pertama kali menampilkan topik bawang berlian, testimoni keampuhannya menurunkan kadar gula darah mengalir deras. Ambil contoh di Maluku. Di sana ada seorang penderita diabetes dengan kadar gula darah pernah mencapai 600 mg/dl. Agar turun ke angka 200 mg/dl, ia harus disuntik insulin setiap hari. Sejak minum kapsul bawang berlian, dosis insulinnya jauh berkurang, tetapi kadar gula darahnya stabil, bahkan lebih rendah daripada biasanya.
    Bawang berlian sejatinya tidak layak disandingkan dengan bawang putih sebagai superbulb jika hanya efektif untuk diabetes. Testimoni membaiknya kesehatan setelah mengonsumsi bawang berlian juga muncul dari penderita hipertensi, kanker payudara, kanker servik, sembelit, kista, mag, penyakit jantung, pembengkakan prostat, asam urat, batu ginjal, dan stroke. Sebagian besar bukti empiris itu didukung oleh penelitian ilmiah.
    Status bawang berlian di Thailand–di sana namanya hom daeng–beda lagi. Hom daeng justru dipakai sebagai bumbu masak. Masakan dengan bumbu bawang berlian dijamin awet lantaran ia juga bersifat antibakteri. Yang benar-benar tidak patut ditiru adalah seperti yang terjadi di Sukabumi, Jawa Barat. Di sana bawang berlian tumbuh sembarangan di ladang-ladang singkong. Tidak ada yang merawat. Tidak ada yang memanfaatkan. Bawang berlian di sana dianggap tanaman tidak berguna.
    Jika saja para penduduk mengetahui khasiatnya, bawang berlian bisa menjadi herbal ampuh di kampung. Dr Sukrasno punya cara sederhana untuk mengonsumsi bawang berlian. Ambil satu siung bawang berlian. Iris tipis kemudian masukkan ke air hangat. Bukan air panas. Kalau mau dipanaskan, pakai api kecil dan tidak sampai mendidih. Tujuannya agar senyawa yang terkandung di bawang berlian tidak rusak. Setelah diaduk-aduk, larutan bawang berlian itu bisa diminum sekaligus.
    Pelarut air sudah memadai karena antosianin dan eleutherine bersifat mudah larut. Berapa banyak pelarut? Bagaimana dosis minumnya per hari? Layaknya obat tradisional, tidak ada ukuran pasti untuk itu. Bawang berlian Eleutherine americana, meskipun dikenal pula di belahan dunia lain, nasibnya tidak sehebat bawang putih Allium sativum. Jangankan mengemasnya dengan cantik dan menawarkannya sebagai suplemen, yang mengebunkannya secara intensif pun baru satu-dua. Popularitasnya sebagai bumbu masak pun tidak pernah terdengar Yang sudah ada hanyalah melakukan ekstraksi sederhana dan mengemasnya dalam bentuk kapsul.  Skalanya masih skala rumah tangga, belum pabrikan dengan izin resmi  sebagai suplemen atau obat tradisional dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan*****

    Onny Untung, Koordinator Pengembangan Agribisnis (grup Trubus) dan  redaktur senior Trubus
    Sumber: Majalah Trubus edisi 524 Juli 2013/XLIV